Rabu, 12 Oktober 2011

Resensi Buku Asia Tenggara


RESENSI BUKU ASIA TENGGARA
DALAM KURUN NIAGA 1450-1680
Jilid 1 : Tanah di Bawah Angin
Judul : Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680
Judul Asli : Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680
Pengarang : Anthony Reid
Penerjemah : Mochtar Pabotinggi
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tahun Terbit :1992
Kota Terbit : Jakarta
Cetakan ke : 1
ISBN : 979-461-108-5
Tebal Buku : xxxiv + 333hlm : 21 cm

Buku karya Anthony Reid ini telah diterbitkan dalam bagian kecil dengan bentuk yang berbeda di tempat-tempat lain, antara lain tentang perbudakan yang diterbitkan oleh Oxford University Press, perawan wanita yang diterbitkan oleh Queensland University Press, tentang segi peperangan yang diterbitkan oleh Ecole Francaise d’Extreme-Orient, dan tentang pendidikan Asia Tenggara yang diterbitkan oleh James Cook University Center.


Buku ini mengangkat kisah sejarah Asia Tengara karena sejarah itulah yang paling sedikit diperhatikan. Dibanding dengan buku-buku tentang Sejarah Asia Timur dan Asia Selatan. Reid dalam buku ini menggunakan Total History dalam mengungkap sejarah peradaban yang meliputi semua aspek, tidak hanya berkutat dalam bidang politik. Curah gagasan Reid dalam buku ini, antara lain aspek geografi, demografi, pakaian, pesta rakyat dan kerajaan, perumahan, material culture, makanan, seks, kedudukan wanita versus laki-laki dan lainnya yang sejenis. Bahkan dalam buku ini masalah politik agak diabaikan. Penekanan dalam buku ini adalah persatuan wilayah Asia Tenggara sebagai suatu unit. Karena perbedaan kawasan geografis yang tidak menonjol mengakibatkan banyaknya hubungan dagang antar daerah di kawasan tersebut. Walaupun terhadap suku bangsa dan bahasa.
Dalam kurun niaga (1450-1680) Interaksi Asia Tenggara dengan daerah diluar kawasan sangat sedikit. Sebaliknya, interaksi dagang diantara mereka berlangsung secara damai dan saling melengkapi kebutuhan masing-masing. Bangsa Asia Tenggara menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa perantara (Lingua Franca). Kesatuan masyarakat Asia Tenggara sering disebut “Loose” (bebas). Terjadi perubahan yang mencolok tentang kenaikan jumlah penduduk pada awal periode 1450 dengan akhir periode 1680. Kenaikan jumlah penduduk di Asia Tenggara dikategorikan rendah dibandingkan penduduk Eropa, salah satunya karena faktor fisik.
Makanan penduduk Asia Tenggara adalah beras. Beras merupakan bahan makanan utama masyarakat Asia Tenggara, dan bahan tersebut diperoleh dengan menggunakan teknologi yang agak primitive ( sederhana ). Sementara itu bahan lauknya adalah ikan, ikan tawar maupun ikan laut. Bahan makanan lain yang masih kita gunakan sampai saat ini, misalnya, gula aren, minyak, beras, asem dan terasi. Pada saat itu tidak ada perbedaan dalam cara makan antara elite dan rakyat biasa. Keduanya sama-sama menggunakan tangan. Hanya di kalangan elite biasanya lauk yang tersedia disajikan dalam piringdan mangkok yang indah. Dalam menjamu tamu sehari-hari, apabila saat ini dengan teh, kopi atau coca-cola, maka pada abad ketujuh belas sajian utamanya adalah sirih dan tembakau.
Kesehatan masyarakat Asia tenggara sama atau bahkan lebih baik dibandingkan dengan masyarakat Barat. Berdasarkan aspek kebudayaan material, perumahan di Asia Tenggara umumnya tidak dibuat dari kayu yang agak ringan dan tidak menggunakan paku untuk memudahkan pembongkaran rumah jika akan pindah. Penduduk Asia Tenggara sangat mementin gkan kebersihan dan keindahan badan. Seperti menghitamkan gig, memakai minyak wangi, menata rambut yang panjang bagi laki-laki di daerah-daerah Islam mungkin disebabkan karena pengaruh agama. Masyarakat Eropa pun sempat terheran-heran melihat orang Asia Tenggara mandi 3 sampai 4 kali sehari, suatu kebiasaan yang jarang dilakukan orang Eropa.
Peperangan di Asia Tenggara pada dasarnya bukanlah untuk memperluas wilayah/teritorial tertentu. Kerajaan-kerajaan tradisional di Asia Tenggara tidak memiliki alat-alat seperti tentara yang profesional dan korps pegawai untuk menduduki satu wilayah dan kemudian mengeksploitasinya untuk kepentingan daerah induk sebagaimana yang dilakukan di Eropa, Cina, India, dan dunia Islam di Timur Tengah. Dalam hubungan antar seksual masyarakat Asia Tenggara berbeda dengan masyarakat lain, wanita di Asia Tenggara agak otonom dan memiliki peran ekonomis yang penting. Bahkan disebutkan, peran reproduktif menyebabkan wanita memiliki kedudukan sakral. Kedudukan wanita yang otonom sering menyebabkan perceraian antara wanita dengan laki-laki yang mempunyai frekuensi yang tinggi. Itu semua disebabkan karena suami dapat meninggalkan istri dan anak-anaknya dengan mudah mengingat istri sendiri sudah merupakan unit ekonomi yang berdikari. Ini juga bisa diartikan bahwa istri dapat juga berganti suami. Dikatakan bahwa manusia Asia Tenggara adalah Homo Ludens yakni, manusia yang bermain-main. Hal ini diperlihatkan dengan kebiasaan berpesta dan menggunakan waktu santai.
Buku karya Reid ini lahir dari interaksi dengan Asia Tenggara selama 20 tahun. Kelebihan dari karya Reid ini adalah penggunaan bahasa yang detail. Buku ini merupakan karya yang hebat karena menggunakan Total History untuk mengungkap sejarah Asia Tenggara walaupun memiliki data yang sedikit. Bahasa yang digunakan dalam buku ini mudah dipahami dan komunikatif. Kekurangan dalam buku ini terletak dari cara Reid mengungkapkan isi buku yang terlalu banyak menekankan pada kesatuan Asia Tenggara. Kemudian, Reid juga tidak menyentuh soal-soal non formal. Menurut saya, buku ini layak dibaca sebagai jendela sejarah untuk mengetahui sejarah Asia tenggara pada kurun niaga 1450-1680. Buku ini cocok dibaca para pelajar yang sedang mendalami ilmu sejarah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar